Sungguh Mengerikan, Manusia Diperlakukan Sama Dengan Hewan

Rasisme adalah masalah yang sudah ada sejak dulu. Hingga saat ini, perilaku rasis sebenarnya juga masih bisa dijumpai meski sudah tidak sebanyak dan sekejam dulu. Hal ini karena masyarakat mulai menyadari bahwa pada hakikatnya, apapun ras, suku atau etnisnya, mereka semua adalah manusia yang setara.Haruskah kita kembali ke masa-masa rasis seperti dulu? Yang mana persamaan hak sama sekali tidak ada artinya. Bahkan orang-orang minoritas diperlakukan layaknya binatang, parahnya lagi suku dan etnis tertentu justru dijadikan sebagai objek pameran, dikerangkeng dan dipertontonkan oleh mereka yang menganggap dirinya bangsawan.

Ya, seperti itulah masalah rasisme yang pernah terjadi. Tidak hanya diskriminalisasi dan ingin dimusnahkan tapi mereka justru dipamerkan layaknya hewan di kebun binatang. Nah, inilah kebun binatang manusia dalam sejarah.

1. Suku Asli Amerika Diarak di Sepanjang Eropa

Kebanyakan orang tahu betul bahwa suku asli Amerika telah diperlakukan dengan tidak adil selama bertahun-tahun. Tapi tidak banyak yang tahu seberapa keterlaluan perlakuan yang mereka terima dan bagaimana sejarah berusaha keras untuk menyembunyikannya. Banyak orang mulai berkampanye bahwa Christopher Columbus bukanlah pahlawan yang menemukan Amerika seperti yang sering diceritakan.

Colombus bukanlah yang pertama menginjakkan kaki di Amerika karena di sana telah tinggal suku asli Amerika. Ia menjadi serakah dan berusaha mencuri emas milik suku Indian Amerika. Tidak hanya itu saja, ia juga menculik ratusan dari mereka dan membawanya ke Eropa untuk diarak dan dipajang sebagai keanehan yang hidup. Banyak dari mereka akhirnya meninggal hanya dalam waktu 6 bulan, tapi Colombus tidak menghentikan kegiatan ini. Ratusan suku asli Amerika tewas hanya agar orang-orang Eropa bisa mendapatkan tontonan yang menurut mereka aneh.

2. Suku Jarawa

Suku Jarawa adalah salah satu suku terisolasi di bagian Andaman, India. Secara resmi pemerintah India pun telah menerapkan peraturan tegas untuk melindungi suku ini. Namun hal tersebut tidak menghentikan sejumlah pebisnis untuk mengeksploitasi suku Jarawa. Bahkan inilah salah satu bukti nyata masih adanya rasisme di dunia meski era sudah modern seperti sekarang ini. Sejumlah pebisnis diketahui menawarkan sebuah tur “spesial” untuk bertemu langsung dengan suku Jarawa. Parahnya lagi suku Jarawa justru diperlakukan layaknya hewan di kebun binatang, yang mana mereka dipaksa untuk menari demi mendapatkan biskuit atau pisang.

3. Memajang Suku Igorot, Filipina

Setelah terjadinya perang antara Amerika dan Filipina, Amerika yang menang memutuskan bahwa mereka akan memperlakukan musuh mereka lebih jauh lagi dengan cara memamerkan mereka di tempat umum sebagai suku barbar. Awal Festival Dunia tahun 1904 di St. Louis saat itu bertepatan dengan berakhirnya perang. Maka Amerika membuat pameran manusia hidup, termasuk diantaranya lahan pameran seluas kurang lebih 190 meter yang diisi dengan suku Igorots, Filipina. Saat itu, suku ini dikenal akan kebiasaannya memakan anjing. Jadi sebagai bagian dari pertunjukan, mereka dipaksa membunuh dan memotong anjing secara terus menerus untuk menghibur para penonton. Ini semua dibuat untuk memperkuat stereotipe yang sebenarnya salah. Suku Igorot hanya sesekali makan anjing sebagai bagian dari upacara tertentu saja.

4. Wanita Afrika – Pengidap Steatopygia

Pada abad ke-19, seorang dokter Inggris bernama William Dunlop mengunjungi Afrika. Dalam perjalanan pulang, ia berhasil meyakinkan seorang wanita Afrika bernama Sartjie untuk bergabung dengannya. Sementara ia mungkin telah memberikan segala macam alasan untuk membujuk sartje ikut bersamanya ke inggris, semuanya langsung menjadi jelas bahwa motif sebenarnya dari William adalah untuk menampilkannya ke pada publik dikarenakan karakteristik tubuh Sartje yang agak aneh. Dia berganti nama menjadi Sarah Bartman (atau Baartman) untuk menghilangkan identitas lamanya dan membuatnya terdengar lebih Eropa.

Sartjie kemudian ditampilkan di seluruh Eropa, kadang-kadang sebanyak 11 jam sehari. Dia selalu telanjang atau sebagian telanjang untuk menampilkan karakteristik yang aneh. Sartje memiliki kondisi langka yang dikenal sebagai steatopygia, dimana ada akumulasi besar lemak di daerah sekitar bokong dan dan alat kelaminnya. Dia pada dasarnya diarak keliling sebagai pertunjukan orang aneh dan akhirnya ia meninggal karena cacar dan alkoholisme. Dia diejek secara mengerikan dan ilmuwan mempertanyakan apakah ia mungkin “missing link” yang selama ini dicari. Yang mana menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak dianggap sebagai manusia. Bahkan Wanita malang ini dibedah setelah kematiannya. Menunjukkan betapa mengerikannya tindakan manusia hanya untuk sebuah hiburan

5. Pria Suku Pigmy Yang Disamakan Dengan Kera

Di usia 23 tahun, seorang suku pygmy bernama Ota Benga dibawa ke New York oleh seorang penjelajah, Samuel Phillips Verner dan tinggal di lahan kebun binatang Bronx. Di usia yang masih muda, Benga telah mengalami berbagai kejadian sulit mulai dari 2 kali menjadi duda, lolos dari pembantaian dan sebelumnya pernah dijadikan budak. Yang lebih mengenaskan lagi, di New York ia diperlakukan layaknya binatang.

Benga disuruh berjalan di sekitar lahan kebun binatang dan dipaksa melakukan apapun yang membuatnya terlihat barbar. Tidak lama, ia dimasukkan area tertutup agar bermain dengan kera-kera dan ditampilkan sebagai contoh tahap awal evolusi manusia. Hal ini akhirnya menarik banyak penonton dan menjadikannya perhatian nasional. Banyak orang memprotes tindakan penganiayaan terhadap manusia tersebut.

Pada akhirnya ia dibebaskan dari kandang, tapi ia terus diikuti dan diejek oleh orang-orang. Benga yang marah dan frustasi kemudian melukai beberapa orang pengunjung dengan panahnya. Ia akhirnya diselamatkan oleh beberapa orang, diajari berbahasa Inggris, mendapatkan pekerjaan, serta menerima perlakukan yang lebih baik dari sebelumnya. Namun rasa sakit dan tersiksa masih tersimpan dalam dirinya, ditambah dengan kehidupan di dunia baru yang asing akhirnya membuatnya bunuh diri beberapa tahun kemudian.

Beberapa kisah kejam dan mengerikan tersebut membuktikan bagaimana terkadang manusia bisa begitu kejam terhadap orang lain hanya demi menghibur diri. Tapi hal ini juga menunjukkan sudah seberapa jauh kita melangkah sebagai manusia yang mampu menghargai dan menghormati orang lain.

Next ArticleWicca, Agama Tertua Di Dunia Beraliran Sihir