Kisah Tongkat Raja Batak Tunggal Panaluan

Dahulu kala ada sebuah cerita yang berasal dari Pangururan, pulau Samosir tepatnya di desa Sidogor-dogor tinggallah seorang laki-laki bernama Guru Hatimbulan. Beliau adalah seorang dukun yang bergelar ‘Datu Arak ni Pane’. Istrinya bernama Nan Sindak Panaluan. Telah sekian lama mereka menikah tetapi belum juga di karuniai keturunan. Suatu ketika perempuan itu hamil setelah begitu lamanya mereka menunggu, kehamilan tersebut membuat heran semua penduduk kampung itu dan menganggap keadaan itu hal yang gaib atau aneh.

Di lain waktu tiba, saatnya istri Guru Hatimbulan melahirkan, perempuan itu melahirkan anak kembar, seorang anak laki-laki dan perempuan dan kemudian diadakanlah pesta Martutu Aek (memberi nama) kepada kedua anak itu yang saat itu upacara atau pesta ini dipimpin oleh Agama Parbaringin. Setelah diadakan ritual untuk dalam acara Martutu Aek tersebut, dinamailah anak laki-laki Aji Donda Hatautan dan anak perempuan itu Siboru Tapi Nauasan. Penatua Huta atau tokoh masyarakat menganjurkan kedua anak tersebut agar dipisahkan agar dikemudian hari tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Pada suatu ketika terjadilah bencana kering dikampung itu. Hampir 3 bulan lamanya hujan tidak pernah turun. Tanah sudah mengering, bahkan sawahpun sudah terbelah tanahnya semua tanaman muda menguning hingga layu. Para Pimpinan desa segera berunding dan dipanggillah orang pintar namanya “Datu” dari kalangan datu itu di peroleh keterangan bahwa penyebab musim kemarau panjang itu adalah adanya perbuatan tidak senonoh dari orang bersaudara di kampung itu. Segera tertujulah tuduhan seperti itu kepada anak Guru Hatia Bulan yang bernama Aji Donda Hatahutan dan adiknya perempuan bernama Tapi Omas Nauasan.

Pimpingan Desa dan Datu segera menjumpai Guru Hatia Bulan. Kepada mereka dijelaskan bahwa penyebab bencana di desa itu adalah anak kembar mereka. Kedua anak kembarnya yaitu Aji Donda Hatahutan dan adik perempuannya bernama Tapi Omas Nauasan itu dipanggil. Mereka di tanyai macam-macam pertanyaan, dibentak, digertak dengan suara keras dan lantang serta mata yang melotot. Mereka hanya ketakutan dan diam seribu bahasa.

Akhirnya Guru Hatia Bulan dengan terpaksa menyerahkan dan  tak bisa berbuat apa-apa. Ibu su Aji Donda Hatahutan dan si Tapi Omas Nauasan juga bertanya tetapi kedua anaknya tetap merasa katakutan dan membisu seribu bahasa. Aji Donda Hatahutan ini agak penakut dan kurang berani apa lagi karena kelahirannya ditolong Sibaso dukun beranak kampung maka dia menderita cacat tubuh dan sangat takut mendengar suara keras.

Lain halnya dengan adik kembarnya yang perempuan si Tapi Omas Nauasan, anaknya cantik, matanya bening dan rakus, selalu mau minum dan makan buah-buahan. Karena selalu diejek orang sekampung dan adanya tuduhan dari orang-orang kampong, maka Guru Hatia Bulan membangun sebuah rumah kecil dinamakan “Sopo” untuk mereka di kaki bukit dekat hutan.

Gubuk itu dijaga dengan seekor anjing dan setiap hari Guru Hatimbulan membawakan makanan untuk anaknya tersebut. Setelah anak-anaknya bertumbuh menjadi besar, pergilah putrinya jalan-jalan ke hutan lalu dilihatnya sebuah pohon yaitu pohon piu-piu tanggulon(Hau Tadatada), pohon yang batangnya penuh dengan duri dan mempunyai buah yang masak dan manis. Melihat buah pohon itu ,maka timbullah hasratnya untuk memakannya, tetapi sebelum dia naik ke pohon itu, dia mengambil beberapa buah itu dan memakannya. Pada saat itu juga, dia tertelan dan menjadi satu dengan pohon itu hanya kepalanya saja yang terlihat(tersisa).

Di tempat lain abangnya Si Aji Donda Hatahutan gelisah menunggu adiknya pulang, kenapa sampai sore kok belum pulang juga adiknya, lalu dia pergi ke dalam hutan untuk menyelidikinya sambil berteriak memanggil-manggil nama adiknya itu. Saat dia sudah merasa letih, tiba-tiba dia mendengar jawaban dari adiknya dari pohon yangg berdekatan dengan dia dan adiknya menceritakan apa yang terjadi, sehingga dia tertelan oleh pohon tersebut. Si Aji Donda berusaha menyelamatkan adek nya dengan memanjat pohon itu, tetapi dia pun ikut ditelan dan menjadi satu dengan pohon itu. Keduanya menangis untuk meminta tolong, tetapi suara mereka hilang begitu saja di dalam gelapnya hutan. Keesokan paginya, anjing mereka lewat dan meloncat-loncat pada pohon tersebut, lalu anjing itupun mengalami hal yang sama, tertelan oleh pohon itu hanya kepalanya saja yang terlihat.

Seperti biasa si Guru hatimbulan datang ke gubuk anaknya untuk membawakan mereka makanan, tapi dia tidak menemui mereka, lalu dia mencari dan mengikuti jejak kaki anaknya ke dalam hutan, sampai pada akhirnya dia menemui pohon tersebut dan dimana dia hanya melihat kepala dua orang anak-anaknya dan anjing penjaga.

Melihat hal itu dia menjadi sedih dan ia segera bergegas pulang kerumahnya menceritakan malapetaka itu kepada istrinya. Secara diam-diam mereka segera memanggil orang pintar seorang Dukun, bernama Datu Parmanuk Holing. Dengan mudah Datuk Parmanuk Holing yang terkenal sakti bergegas pergi. “Ah… gampang biar mereka kucabut berdua”. Kata Datu Parmanuk Holing itu langsung naik ke atas dan memanjatnya tetapi ternyata diapun ikut lengket di kayu itu hanya kepalanya yang tersembul dan badannya hilang ditelan pohon itu.

Dengan rasa takut secara diam-diam Guru Hatimbulan mendengar ada lagi seorang yang sakti bernama Datu Mallatang Malliting. Datu ini dikenal kebal dan mempunyai kekuatan gaib yang luar biasa. Setelah mendatangi Datu itu, Datu itu berjanji segera melepaskan dan membebaskan mereka karena dia mengaku sakti dan memanjat pohon itu. Tetapi sayang seribu sayang sang Datu Mallatang Malliting itupun ikut pula ditelan pohon Piupiu Tanggule itu.

Dengan hati yang berduka Guru Hatia Bulan belum putus harapan untuk menyelamatkan anaknya dan semua. Dicarinya Datu orang pintar dan sakti lainnya seorang perempuan yang paling sakti di negeri itu bernama Datu Boru Sibaso Bolon. Iapun segera mendatangi pohon itu membaca mantra (Tabas tabas) dan memanjat pohon itu tetapi apa dikata iapun mengalami nasib serupa. Kabar itu segera tersiar keberbagai penjuru dan orang-orang sakti pada berkumpul. Seorang Datu sakti bernama Datu Horbo Marpaung mencoba dan juga mengalami nasib yang sama. Tetapi keberanian Datu-datu orang Batak tidak pernah surut seorang lagi Datu bernamaa Datu Jolma So Begu yang angker dan terkenal hebat mencoba masih mengalami hal yang serupa.

Akhirnya datanglah seorang Datu bernama Datu Parpansa Ginjang. Dia meminta agar diadakan upacara terlebih dahulu, diadakan pesta memuja dan menyembah Tuhan serta meminta pengampunan dosa dan setelah itu ia akan menebang pohon itu. Sepakatlah orang kampung mengadakan pesta adat memotong kerbau dan membuat sesajen menari, kemudian Datu meminta apabila pohon itu telah ditebangnya agar dibuatkan sebuah tongkat dari kayu itu dan diukir kepala-kepala manusia yang ditelan itu dengan gambar manusia menggigit ekor kadal dibagian belakang serta gambar seekor kadal dibagian belakang serta gambar seekor ular menggigit cicak. Setelah disepakati dan ditemukan ahli ukir dilakukanlah penebangan pohon. Pohon itupun tumbang.

Sungguh sedih hati Guru Hatia Bulan menyaksikan kejadian itu dan ia segera bergegas pulang kerumahnya menceritakan malapetaka itu kepada istrinya. Secara diam-diam mereka segera memanggil orang pintar seorang Dukun, bernama Datu Parmanuk Holing. Dengan mudah Datuk Parmanuk Holing yang terkenal sakti bergegas pergi. “Ah… gampang biar mereka kucabut berdua”. Kata Datu Parmanuk Holing itu langsung naik ke atas dan memanjatnya tetapi ternyata diapun ikut lengket di kayu itu hanya kepalanya yang tersembul dan badannya hilang ditelan pohon itu.

Dengan rasa takut secara diam-diam Guru Hatia Bulan mendengar ada lagi seorang yang sakti bernama Datu Mallatang Malliting. Datu ini dikenal kebal dan mempunyai kekuatan gaib yang luar biasa. Setelah mendatangi Datu itu, Datu itu berjanji segera melepaskan dan membebaskan mereka karena dia mengaku sakti dan memanjat pohon itu. Tetapi sayang seribu sayang sang Datu Mallatang Malliting itupun ikut pula ditelan pohon Piupiu Tanggule itu.

Dengan hati yang berduka Guru Hatia Bulan belum putus harapan untuk menyelamatkan anaknya dan semua. Dicarinya Datu orang pintar dan sakti lainnya seorang perempuan yang paling sakti di negeri itu bernama Datu Boru Sibaso Bolon. Iapun segera mendatangi pohon itu membaca mantra (Tabas tabas) dan memanjat pohon itu tetapi apa dikata iapun mengalami nasib serupa. Kabar itu segera tersiar keberbagai penjuru dan orang-orang sakti pada berkumpul. Seorang Datu sakti bernama Datu Horbo Marpaung mencoba dan juga mengalami nasib yang sama. Tetapi keberanian Datu-datu orang Batak tidak pernah surut seorang lagi Datu bernamaa Datu Jolma So Begu yang angker dan terkenal hebat mencoba masih mengalami hal yang serupa.

Akhirnya datanglah seorang Datu bernama Datu Parpansa Ginjang. Dia meminta agar diadakan upacara terlebih dahulu, diadakan pesta memuja dan menyembah Tuhan serta meminta pengampunan dosa dan setelah itu ia akan menebang pohon itu. Sepakatlah orang kampung mengadakan pesta adat memotong kerbau dan membuat sesajen menari, kemudian Datu meminta apabila pohon itu telah ditebangnya agar dibuatkan sebuah tongkat dari kayu itu dan diukir kepala-kepala manusia yang ditelan itu dengan gambar manusia menggigit ekor kadal dibagian belakang serta gambar seekor kadal dibagian belakang serta gambar seekor ular menggigit cicak.

Setelah disepakati dan ditemukan ahli ukir dilakukanlah penebangan pohon itu tetapi semua kepala orang yang ada di pohon tersebut jadi menghilang, juga anjing dan ular yang tertelan pohon tersebut. Semua orang yang menyaksikan seperti terperanjat, lalu si datu berkata kepada Guru Hatimbulan: ‘Potonglah pohon itu menjadi beberapa bagian dan ukirlah gambaran dari orang-orang yang ditelan oleh pohon ini”. Guru hatimbulan memotong batang pohon itu menjadi beberapa bagian dan mengukirnya menjadi sebuah tongkat dengan bentuk 5 orang lelaki, 2 orang anaknya, seekor anjing dan seekor ular.

Setelah selesai mengukir tongkat tersebut menjadi 9 wajah, maka semua orang kembali ke kampung guru Hatimbulan, ketika mereka tiba di kampung ditandai dengan bunyi gong dan juga mengorbankan seekor lembu untuk menghormati mereka yang di ukir dalam tongkat tersebut. Setelah Guru Hatimbulan selesai manortor maka tongkat itu diletakkan membelakangi muka lumbung padi. Setelah itu baru datu Parpansa Ginjang manortor(menari), melalui tortor ini dia kesurupan(siar- siaron) dirasuki roh-roh dari orang-orang yang ditelan pohon itu dan mulai berbicara satu-persatu, mereka adalah roh dari:

  •  Si Aji Donda Hatahutan.
  • Siboru Tapi Nauasan.
  • Datu Parmanuk Holing.
  • Datu Mallatang Malliting.
  • Datu Boru Sibaso Bolon.
  • Datu Horbo Marpaung.
  • Barita Songkar Pangururan.
  • Datu Jolma So Begu

Dan mereka berkata, “Wahai bapak pemahat, kau telah membuat ukiran dari wajah kami semua dan kami punya mata, tetapi tidak bisa melihat, kami punya mulut tetapi tidak bisa bicara, kami punya telinga tapi tidak mendengar, kami punya tangan tapi tidak bisa menggenggam, kami mengutuk kamu, wahai pemahat. Si datu menjawab, “Jangan kutuk aku, tetapi kutuklah pisau ini tanpa pisau ini aku tidak dapat mengukir wajah kalian”. Tetapi si pisau berbalik membalas, “Jangan kutuk aku, tetapi kutuklah si tukang besi, kalau saja dia tidak menempa aku menjadi pisau, aku tidak akan pernah menjadi pisau”. Si tukang besi pun tidak ingin disalahkan lalu berkata, “Jangan kutuk aku tapi kutuklah Angin, tanpa angin aku tidak dapat menempa besi”. Angin pun menjawab,”Jangan kutuk kami tapi kutuklah si Guru hatimbulan”. ketika semua tertuju pada Guru hatimbulan, maka roh itu berkata melalui si datu, “Aku mengutukmu, Ayah dan juga kamu Ibu, yaitu yang melahirkan aku”.

Ketika Guru Hatimbulan mendengar itu, dia menjawab balik, “Jangan kutuk aku tetapi kutuklah dirimu sendiri. Kau yang jatuh ke dalam lubang dan terbunuh oleh pisau dan kamu tidak mempunyai keturunan”. Lalu Roh itu berkata: “Baiklah, biarlah begini adanya, gunakanlah aku untuk menahan hujan, memanggil hujan pada waktu musim kering, senjata di waktu perang, mengobati penyakit, menangkap pencuri, dll. Setelah upacara itu, maka pulanglah mereka masing-masing.

Next ArticleInilah Bahaya Penyakit Varises