Kisah Abdurrahman Wahid Sebelum Wafat

Abdurrahman Wahid lahir dalam keluarga dengan Ekonomi yang lumayan. Abdurrahman Wahid juga sebagai Presiden Ke-4 Di Indonesia. Ia pernah menjadi Ketua Ulama Nahdlatul Dan ia juga pernah mendirikan Partai PKB. Setelah mengundurkan diri dari Diktator Suharto, Ia dianggkat sebagai Presiden Oleh Majelis.

Selama 20 bulan masa jabatannya, dia mengulurkan tangan untuk etnis Cina, dan berpartisipasi dalam perundingan damai dengan separatis di Timor Timur dan Aceh.

Masa kanak-kanak Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid lahir dari ke 2 oarng tuanya yang bernama Abdul Wahid Hasyim dan Solichah. Abdurrahman Wahid adalah anak tertua dari 5 bersaudara. Keluarganya sangat terkenal dijawa timur dan ayahnya berpartisipasi dalam gerakan nasionalis dan sebagai menteri agama pertama di Indonesia.

Pada tahun 1957, Ia menempati sekolah dasar KERIS dan SD Matraman Perwari di Jakarta.  Ia lulus SMP, SMA, di Yogyakarta, Jawa. Dia pindah ke Magelang untuk mendapatkan pendidikan Muslim  di Pesantren Tegalrejo.

Pada tahun 1965, Ia mendaftarkan diri di Institut tinggi Kajian Islam dan Arab, namun tidak suka Proses belajar yang digunakan oleh Universitas. Ia juga mulai bekerja di Kedutaan besar Indonesia.

Karir

Ketika ia sedang bekerja di Kedutaan besar Indonesia Dimesir, Gerakan 30 September Terjadi, sebuah kudeta yang dipimpin oleh Partai Komunis Indonesia, dan Wahid ditugaskan menulis laporan.

Ia dipindahkan ke Universitas Baghdad dan pindah ke Irak, tetapi terus bergaul dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan menulis artikel untuk pembaca Indonesia. Ia kembali ke Indonesia pada tahun 1971.

Pada tahun 1977, ia menjadi Dekan Fakultas keyakinan Islam dan praktek-praktek di Universitas Hasyim Asyari, dan Ia juga menyampaikan pidato komunitas Muslim di Jombang.

Ia bergabung dengan Ulama Nahdlatul  (NU) Dewan Penasehat agama. Sebelum pemilihan umum legislatif pada tahun 1982, ia berkampanye untuk partai Inggris (PPP), dibentuk oleh 4 partai Islam termasuk NU.

Pada tahun 1983, NU setuju dengan pelaksanaan pancasila oleh Presiden Soeharto  sebagai ideologi untuk semua organisasi. NU memutuskan untuk fokus pada isu-isu sosial, dengan penarikan NU dari politik.

Pada tahun 1984, ia diangkat sebagai ketua NU, dan mencari perubahan dalam sistem pendidikan pesantren sehingga ini bisa bersaing dengan sekolah lainnya.

Sebagai ketua NU, Ia menolak untuk bergabung dengan Komite reformasi yang diusulkan oleh Soeharto dan ditengah-tengah Protes Ketidakpuasan mahasiswa, dan Ia mengundurkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 1998

Ia mendukung pembentukan PKB, partai politik baru, dan pada tahun 1998 ia menjadi Ketua Dewan Penasehat. Dia juga menjadi kandidat pemilihan Presiden untuk pemilu mendatang.

Pada tahun 1999, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR) Memilih Abdurrahman Wahid menjadi Presiden Ke-4 di Indonesia.

Sebagai Presiden, ia memenangkan hati minoritas Cina dengan menyatakan Libur pada tahun baru Cina, Dan ia juga mengangkat karakter Cina dan memberikan status agama yang resmi di Indonesia.

Pada tahun 2000, ia menghadapi dua skandal-Buloggate yang berhubungan dengan hilangnya uang sebesar $ 4 juta dari inventaris Bulog (badan usaha logistik), dan Bruneigate, dari menggelapkan dana $ 2 juta yang disumbangkan oleh Sultan Brunei.

Selama masa kepresidenannya, ia mengunjungi negara-negara ASEAN, seperti Israel, Jepang, Kuwait, Jordan, Cina, Arab Saudi, India, Korea Selatan, Thailand, Brunei, Pakistan, Mesir, Amerika Serikat dan banyak negara Eropa.

Karya utama

Pada tahun 1993, Abdurrahman Wahid menerima penghargaan bergengsi karena usahanya untuk mempromosikan hubungan antar agama di Indonesia dalam suatu masyarakat yang demokratis. Penghargaan disebut sebagai ‘Nobel Prize untuk Asia’.

Pada tahun 2003, ia menerima penghargaan Global dari Perserikatan Bangsa-bangsa  untuk mempromosikan prinsip-prinsip Perserikatan Bangsa-bangsa.

Selain itu, Ia juga dianugerahkan gelar doktor kehormatan oleh Universitas Netanya (Israel), Konkuk dan Universitas (Korea Selatan) matahari bulan, Soka Gakkai University (Jepang), Universitas TM (Thailand), Pantheon Sorborne Universitas (Perancis), dan banyak Universitas lainnya di seluruh dunia.

Kehidupan pribadi

Abdurrahman Wahid Menikah dengan istrinya yang bernama Sinta Nuriyah Wahid dan memiliki 4 putri yang bernama: Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Ia meninggal akibat komplikasi yang berkaitan dengan diabetes dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Kota Jombang.

Kesukaan

Presiden Ke-4 Indonesia ini suka mendengarkan musik klasik seperti Beethoven’s Symphony No 9, Mozart di 20 piano concerto, Mesir UMM Khulsum, Janis Joplin, dan penyanyi Indonesia Ebiet G. Ade.

 

Next ArticleArti dari Jenis Zodiak