Inilah Fakta Menjadi Seorang Dokter

Dokter bisa dibilang merupakan salah satu profesi yang paling diidamkan. Ini adalah mimpi setiap orang tua bila bisa mengkuliahkan anaknya di fakultas kedokteran. Bagaimana tidak, profesi dokter sering diidentikkan dengan pekerjaan mulia yaitu memyembuhkan orang sakit. Jika diri kita atau orang tua menderita sakit, bahkan sakit parah, kita akan sangat berterima kasih dan mungkin kagum dengan dokter yang telah melakukan pekerjaannya. Selain itu, tidak bisa dipungkiri, dokter identik dengan penghasilan besar dan hidup mewah. Barangkali ini merupakan faktor terbesar yang mendorong orang banyak untuk kuliah kedokteran.

Meskipun demikian, perjalanan untuk menjadi dokter sangatlah tidak mulus, bisa dikatakan cukup berat. Setelah menjadi dokter pun, belum tentu ekspektasi yang diharapkan bisa terpenuhi. Intinya, menjadi dokter tidaklah seindah yang dibayangkan kebanyakan orang yang tidak memahami profesi tersebut. Kamu ingin menjadi dokter? Atau kamu ingin anak-anakmu menjadi dokter? Berikut adalah hal-hal yang harus diketahui sebelum benar-benar membulatkan tekad memilih profesi tersebut

1. Kuliah Di Kedokteran Harus Cerdas

Diantara jutaan mahasiswa, jurusan kedokteran pastinya merupakan jurusan paling favorit, tapi meski begitu setiap tahunnya hanya beberapa orang saja yang bisa lulus. Bukan hanya karena “untung-untungan” tapi menjadi mahasiswa kedokteran memang punya tuntutan yang tinggi. Pertama yang paling mutlak pastinya kecerdasan, seorang dokter dituntut untuk bisa menghafal semua jenis penyakit, gejala serta pengobatannya. Bukan hanya mengenai pelajaran biologi tapi mencakup banyak hal, mulai dari teknik, matematika sampai bahasa asing.

2. Tidak Ada Hari Tanpa Belajar

Bagi seorang mahasiswa kedokteran ujian ibarat perjuangan hidup mati bukan hanya karena ingin mendapatkan nilai terbaik tapi faktanya setiap pertanyaan memang punya tingkat kesulitan tinggi. Jika tidak dipahami, dihafal dan dikuasai dengan baik maka masa depan mereka dipertanyakan. Karena itu mahasiswa kedokteran selalu menjalani hari-harinya dengan buku, diskusi, buku dan lembar ujian. Berbeda dengan para mahasiswa pada umumnya yang masih punya kesempatan bergaul.

3. Untuk Gelar Dokter Biayanya Seharga Satu Rumah Mewah

Soal biaya sudah jelas ketimpangannya, tidak hanya dari biaya masuk tapi juga biaya semasa kuliah seperti SPP. Belum lagi untuk urusan buku, tidak hanya mahal tapi juga jarang bisa didapatkan. Sudah bukan rahasia lagi kalau biaya masuk kuliah kedokteran mulai dari puluhan juta sampai ratusan juta. Kalau mau dihitung-hitung biayanya cukup untuk membeli sebuah rumah mewah bahkan lengkap dengan fasilitas sampai kendaraan pribadi.

4. Harus Bermental Baja

Nah, yang paling sulit dan paling berat dibalik gelar dokter adalah masalah mental. Setiap dokter dituntut untuk punya mental baja bukan hanya karena tanggung jawabnya yang besar untuk masyarakat tapi sejak kuliah para mahasiswa kedokteran juga selalu dekat dengan kegagalan. Mungkin bukan gagal jadi dokter tapi gagal saat ujian, belum lagi saat praktek anatomi tubuh.

Faktanya para mahasiswa kedokteran bukan lagi mempelajari tubuh manusia melalui patung atau bahkan internet tapi dari tubuh manusia langsung. Termasuk pula saat magang dimana setiap mahasiswa kedokteran dituntut untuk bisa menerima setiap situasi bukan hanya melihat langsung proses pembedahan tapi juga harus siap jika memang ditugaskan untuk menjaga kamar mayat.

5. Tahapan Koas yang Melelahkan

Koas atau “dokter muda” merupakan tahapan pendidikan profesi yang dijalani di rumah sakit. Peserta didik akan mengitari setiap departeman yang ada di RS, seperti departemen penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, bedah, kebidanan dan kandungan, dll. Proses ini ditempuh selama 1,5 atau 2 tahun. Di tahapan ini, ilmu yang dipelajari di masa sarjana diterapkan di tiap bagian walau kebanyakan sih “belajar lagi dari awal” karena apa yang ada di saat mahasiswa sudah dilupakan. Tidak heran kalau koas selalu dimarah-marahi oleh konsulen (dokter spesialis pengajar).

Sama seperti ketika sarjana, jangan berharap ada kuliah atau ada konsulen yang mau mengajarkan atau menjawab pertanyaan. Jika ada koas bertanya, kebanyakan akan ditanya balik dan ujung-ujungnya disuruh belajar sendiri dan benar-benar harus dipelajari karena keesokan hari sang konsulen bisa menagihnya. Ya karena itulah penting untuk berdoa supaya dapat konsulen yang baik.

6. Usai Pendidikan Selama 5-6 Tahun, Dihadapkan dengan Uji Kompetensi Nasional

Ujian ini dulu dikenal dengan Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), sekarang berganti nama menjadi Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter (UKMPPD). Setelah selesai masa koas, calon dokter belum bisa menjadi dokter jika belum lulus ujian ini.

Terdiri dari 2 bentuk, yaitu ujian tulis dan ujian OSCE, ujian ini diselenggarakan secara nasional dan standar soalnya pun skala nasional, seperti UN. Jika belum lulus ujian, calon dokter mesti menunggu 3 bulan berikutnya untuk ujian ulang. Dalam setahun, uji kompetensi diselenggarakan empat kali. Kalau belum lulus juga, terus saja ujian ulang sampai lulus.

Ujian ini penting untuk menjaga kualitas dokter Indonesia. Saat ini ada 73 atau lebih FK di negeri ini dan belum semuanya terakreditasi. Ilmu kedokteran tidak berhubungan dengan mesin, benda mati, atau hewan. Ia diaplikasikan untuk manusia hidup. Tentu mengerikan bukan jika kita atau keluarga kita diobati oleh dokter yang kualitasnya tidak jelas? Karena itulah, calon dokter benar-benar harus belajar keras menghadapi ujian ini, terlebih nilai minimal untuk lulus ialah harus tinggi.

7.  Wajib Mengikuti Program Penempatan Selama Setahun dengan Pemasukan di Bawah Gaji Standar Buruh

Program ini dikenal dengan Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) atau lebih dikenal dengan internsip. Program ini ialah syarat agar dokter yang baru lulus tersebut bisa menjalankan praktek. Kalau belum menjalani internsip, maka ia belum berhak untuk bekerja atau praktek.

Internsip dijalankan secara nasional dengan wahana kerja yang menyebar dari Sumatera hingga Papua. Jika beruntung, bisa dapat wahana kerja yang tidak jauh dari rumah, tapi jika kalah cepat, siap-siap untuk pergi ke daerah. Selama setahun, dokter internsip bekerja di puskesmas dan rumah sakit layaknya dokter, namun masih dalam bimbingan dokter senior. Yahh tergantung wahananya. Di daerah yang kekurangan dokter, peserta internsip akan bekerja layaknya dokter tetap.

Hal yang cukup disesalkan dari program ini ialah penghargaan kurang bagi dokter internsip. Gaji bagi mereka ialah 1.3 juta/bulan, sebelum dipotong pajak. Padahal, banyak dokter internsip yang bekerka layaknya dokter umum dan bahkan banyak juga yang sangat diberdayakan karena jumlah dokter yang kurang. Memang setiap wahana memiliki kebijakan apakah mau memberikan insentif tambahan, tapi banyak juga yang tidak memberikan apa-apa. Bisa dibayangkan bagi yang mesti ke daerah, berarti harus menyewa kostan dan mencari makan sendiri: gaji 1.3 juta tidak akan cukup memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Bagi saya, cukup menyedihkan sudah bergelar dokter namun untuk kebutuhan hidup sehari-hari masih harus disuport orang tua

Semangatlah calon mahasiswa kedokteran, semangat calon teman sejawat. Jika memang cita-cita kalian untuk menjadi seorang dokter kejar dan berusahalah. Jangan khawatirkan tugas, ujian dan apapun rintangannya, kalian pasti akan mampu melewatinya 🙂

Next ArticleArti Simbol Lingkaran Berwarna Pada Kemasaan Obat