Inilah Fakta Dan Fungsi Budak Dalam Sejarah Dunia

Perbudakan sudah ada dalam sejarah manusia sejak 12.000 tahun yang lalu. Sejak manusia mulai bisa bertanam, berburu dan beternak, perbudakan diterapkan untuk memperoleh keuntungan besar tanpa harus mengeluarkan upah. Budaya ini akhirnya berkembang sampai di era modern hingga muncul istilah master dan servant.

Salah satu kebudayaan yang mengenal adanya perbudakan adalah Romawi kuno. Di masa lalu, budak-budak di kawasan Romawi diperlakukan dengan buruk. Bahkan mereka bisa dengan mudah dibunuh meski tidak melakukan kesalahan. Perbudakan telah mengalami banyak perubahan fungsi. Namun satu hal yang tak bisa dihilangkan. Perlakukan tak manusiawi yang diterima servant dari master yang memilikinya. Mereka harus patuh meski harus kehilangan nyawa. Berikut ulasan selengkapnya.

1. Mesopotamia – Pekerja Proyek Bangunan

Mesopotamia kuno mengizinkan seseorang atau kelompok tertentu melakukan perbudakan. Mereka biasanya membeli budak dari penduduk lokal yang membutuhkan uang. Banyak sekali anak-anak atau wanita dijadikan budak untuk membangun peradaban Mesopotamia hingga menjadi besar dan tak tertandingi di masanya.

Budak di Mesopotamia bisa menjadi bebas jika mampu menebus harganya saat pertama kali dibeli. Namun hal ini jarang sekali terjadi mengingat budak tidak mendapatkan upah. Selain itu, seorang bayi yang lahir dari budak secara otomatis memiliki status budak sama seperti yang dimiliki ibunya.

2. Memiliki Budak Adalah Budaya

Memiliki budak sudah seperti budaya di zaman Romawi kuno masa itu. Semua warga baik yang kaya hingga yang paling miskin bisa memiliki budak. Mereka yang berada di strata ekonomi rendah bisa memiliki 1-2 budak yang biasanya dipekerjakan di rumah atau pun di ladang dengan perlakuan yang sangat mengerikan.

Semakin tinggi status ekonomi seseorang maka akan semakin banyak juga budak yang dimiliki. Sebut saja seorang dengan nama Nero, dia memiliki sekitar 400 budak yang bekerja di rumah dan persawahannya. Selanjutnya ada Gaius Cecillus Isidorus yang memiliki sekitar 4.166 budak hingga dirinya wafat.

3. Bangsa Viking – Mendapatkan Uang dari Jaul Beli Budak

Sekitar abad ke-9 hingga 10 masehi, Bangsa Viking banyak sekali melakukan penangkapan warga lokal di area Skandinavia, Eropa. Mereka menculik warga lokal yang sekiranya memiliki nilai untuk dijual sebagai seorang budak kepada bangsa-bangsa di Inggris dan juga di daratan Arab.

Manusia dianggap sebagai komoditas yang bisa dijual belikan untuk mendapatkan banyak uang. Rata-rata budak yang diperjualbelikan adalah wanita dan beberapa pria muda yang bisa dijadikan pekerja paksa. Perbudakan di era Viking menandakan jika Eropa di masa lalu benar-benar sangat kelam.

4. Tiongkok Kuno – Pekerja Pertanian

Perbudakan pertama kali dilakukan di Tiongkok kuno sekitar tahun 2100 sebelum masehi. Di era ini banyak orang ingin mengurangi biaya operasional pertanian hingga akhirnya menggunakan budak untuk bekerja di ladang tanpa diperbolehkan istirahat. Jika master meninggal dunia, budak akan dibunuh lalu dikubur bersama-sama sebagai tanda kesetiaan.

Perbudakan di Tiongkok terus berkembang hingga tahun 9 masehi era Raja Wang Mang. Di era ini perbudakan mulai diberi aturan hingga menjual orang tak bisa dilakukan dengan mudah. Dan lagi di era setelah Wang Mang banyak sekali budak dari Arab yang dijadikan pekerja paksa di Tiongkok. Perbudakan di Tiongkok berakhir di awal abad ke-20.

5. Populasi Budak yang Sangat Banyak

Untuk ukuran kebudayaan yang masih sangat kuno. Romawi kuno memiliki jumlah budak yang terbilang banyak. Di masa Romawi masih berkuasa, setidaknya sudah ada 2 juta budak yang tersebar ke seluruh pelosok negeri. Mereka diambil dari para rakyat kecil atau pun kawasan di mana mereka berhasil melakukan pendudukan

Sebuah sumber yang ditulis oleh McKeown pada 2013 menyebutkan bahwa di awal abad masehi setidaknya 90% orang yang di kawasan Romawi (Italia) adalah keturunan budak. Jadi bisa dilihat betapa populasi budak sangatlah banyak. Hingga sekarang, mungkin penduduk asli di Italia juga berdarah budak yang diturunkan oleh leluhurnya.

6. Pesisir Barbary – Budak Pekerja dan Budak Seks

Pesisir Barbary meliputi negara-negara seperti Maroko, Algeria, Tunisia, dan Libya. Di masa itu banyak sekali bajak laut dari negara itu menyerang kawasan Eropa yang tak terlalu kuat. Banyak sekali penduduk yang ditangkap lalu dijadikan budak untuk dijual di Jazirah Arab. Budak ini banyak berasal dari Italia, Prancis, Portugal, hingga Inggris.

Setidaknya 1 juta lebih warga kulit putih dari Eropa harus rela menjadi budak di kawasan Arab yang sangat kejam. Mereka banyak sekali dijadikan pekerja proyek dan juga para wanita yang cantik akan dijadikan pelampiasan nafsu para majikannya. Perbudakan ini berakhir di awal abad ke-19 saat kekuatan militer di Eropa sudah semakin kuat.

7. Pembebasan Budak di Romawi Kuno

Budak-budak yang ada di Romawi kuno bisa menyatakan diri sebagai manusia bebas ketika mereka melakukan prestasi. Master yang melihat budaknya bisa melakukan apa saja akan memberikan hadiah berupa kebebasan. Cara selanjutnya yang bisa dilakukan adalah dengan membayarkan sejumlah uang kepada master sebagai harga dari dirinya sendiri.

Budak yang telah bebas dari majikannya bisa menjalani hidup seperti biasa. Mereka bisa membeli rumah hingga memiliki budak sendiri. Selanjutnya, budak juga masih diwajibkan untuk bekerja selama beberapa waktu di rumah majikan meski statusnya sebagai pekerja biasa dan dibayar dengan upah yang sesuai.

Itulah beberapa fakta dan fungsi perbudakan manusia dari masa ke masa. Hidup budak bisa hilang begitu saja jika masternya dia mati, perbudakan seharusnya tak ada lagi di dunia ini. Manusia sudah sepantasnya dihargai lebih tinggi apa pun statusnya. Karena pada dasarnya manusia sama dan tak ada bedanya.

Next ArticleCara Membedakan Ladyboy dengan Wanita Asli